oleh : Rizki Abdillah (div : humas IESC FE UII)
Zakat dan wakaf telah dipraktikan sejak awal Islam masuk di negeri ini, dengan didorong oleh dua institusi keagamaan terpenting yaitu masjid dan pesantren. Dalam lintasan sejarah, zakat dan wakaf telah banyak berkonstribusi dalam pengembangan agama Islam dan peningkatan kesejahteraan umat, bahkan menjadi salah satu sumber pembiayaan perjuangan melawan penjajahan di Indonesia. Namun pengelolaan zakat dan wakaf masih dilakukan secara tradisional-individualis. Hal ini terus berlanjut pasca kemerdekaan. Pengelolaan zakat secara ekonomis-produktif tetap tidak diperhatikan. Potensi zakat yang membesar, seiring kemerdekaan dan meningkatnya taraf hidup penduduk, tidak mampu dikelola dengan baik.
Filantropi Islam mengalami kebangkitan di tangan masyarakat sipil pada tahun 1990-an yang dipelopori antara lain oleh Bamuis BNI (berdiri 1968), Yayasan Dana Sosial Al Falah (1987), dan Dompet Dhuafa Republika (1993). Era ini dikenal menjadi era pengelolaan filantropi Islam secara professional-modern berbasis prinsip-pronsip manajemen dan tata kelola organisasi yang baik. Sejak era inilah kemudian potensi filantropi Islam mulai tergali dengan dampak yang semakin signifikan dan meluas.
itik balik terpenting dunia zakat terjadi pada tahun 1999. Sejak tahun 1999, zakat secara resmi ke dalam ranah hukum positif di Indonesia dengan keluarnya UU No 38/1999 tentang pengelolaan zakat. Berdasarkan undang-undang ini, zakat dapat dikelola baik oleh lembaga amil bentukan pemerintah yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) maupun oleh lembaga amil bentukan masyarakat yaitu Lembaga Amil Zakat (LAZ). Di satu sisi, undang-undang ini mengatur adanya sanksi bagi lembaga amil yang tidak amanah, walau tidak jelas implementasinya karena ketiadaan regulasi operasional dari undang-undang ini. Di sisi lain, undang-undang ini tidak mengatur adanya sanksi bagi wajib zakat yang lalai, dengan kata lain undang-undang menetapkan bahwa pembayaran zakat bersifat sukarela. Meski demikian, undang-undang ini telah merintis upaya pemberian insentif bagi wajib zakat dengan menjadikan zakat sebagai pengurang pajak.
Apabila suatu masyarakat sadar untuk berzakat, maka zakat tersebut akan berdampak dan memiliki pengaruh terhadap perekonomian suatu negara.
Adapun dampak dan pengaruh zakat terhadap perekonomian adalah :
1.)
Zakat mendorong pemilik modal mengelola
hartanya
Zakat mal
itu dikenakan pada harta diam yang dimiliki seseorang setelah satu tahun, harta
yang produktif tidak dikenakan zakat. Jadi, jika seseorang menginvestasikan
hartanya, maka ia tidak dikenakan kewajiban zakat mal. Hal ini dipandang
mendorong produktifitas, karena uang yang selalu diedarkan di masyarakat,
akhirnya perputaran uang beredar bertambah. Akhirnya perekonoian suatu negara
akan berjalan lebih baik.
2.)
Meningkatkan etika bisnis
Kewajiban zakat dikenakan pada
harta yang diperoleh dengan cara yang halal. Zakat memang menjadi pembersih
harta, tetapi tidak membersihkan harta yang diperoleh secara batil. Maka hal
ini akan mendorong pelaku usaha agar memperhatikan etika bisnis
3.)
Pemerataan pendapat
Pengelolaan zakat yang baik, dan
alokasi yang tepat sasaran akan mengakibatkan pemerataan pendapatan. Hal inilah
yang dapat memecahkan permasalahan utama bangsa Indonesia (kemiskinan).
Kemiskinan di Indonesia tidak terjadi karena sumber pangan yang kurang, tetapi
distribusi bahan makanan itu yang tidak merata, sehingga banyak orang yang
tidak memiliki kemudahan akses yang sama terhadap bahan pangan tersebut. Dengan
zakat, distribusi pendapatan itu akan lebih merata dan tiap orang akan memiliki
akses lebih terhadap distribusi pendapatan.
4.)
Pengembangan sektor rill
Salah satu cara pendistribusian
zakat dapat dilakukan dengan memberikan bantuan modal usaha bagi para mustahiq.
Pendistribusian zakat dengan cara ini akan memberikan dua efek yaitu
meningkatkan penghasilan mustahiq dan juga akan berdampak pada ekonomi secara
makro. Usaha yang dilakukan tersebut merupakan usaha yang meningkatkan sektor
riil, menggerakkan pertumbuhan dan aktifitas perekonomian. Hal ini sangat erat
kaitannya dengan daya saing kompetitif dan komparatif suatu bangsa. Ukuran
produktifitas suatu bangsa dapat dilihat dari kemampuan sektor riil-nya dalam
menghadapi persaingan yang semakin ketat.
5.)
Sumber dana pembangunan
Banyak kaum dhuafa yang sangat
sulit mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, maupun sosial ekonomi.
Lemahnya fasilitas ini akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum
termarjinal. Kesehatan dan pendidikan merupakan modal dasar agar SDM yang
dimiliki oleh suatu negara berkualitas tinggi. Peran dana zakat sebagai sumber
dana pembangunan fasilitas kaum dhuafa akan mendorong pembangunan ekonomi
jangka panjang. Dengan peningkatan kesehatan dan pendidikan diharapkan akan
memutus siklus kemiskinan antar generasi.
Referensi :
Tim FEUI.
2010. Indonesia Economic Outlook 2010. Jakarta: Grasindo
0 komentar:
Posting Komentar