Tampilkan postingan dengan label islamic accounting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamic accounting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Bunga di Bank Konvensional dan Relevansinya pada Tabungan Haji di Bank Konvensional



(Oleh: Astrini Suci, Staf Divisi Humas dan Media IESC FE UII)

             Penerapan nilai-nilai Islam adalah wajib dalam aspek keseluruhan di kehidupan manusia, meskipun dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Tapi, sayangnya fenomena saat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam secara keseluruhan belum diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu contohnya adalah dalam aspek ekonomi yaitu tabungan haji di bank-bank konvensional. Haji adalah salah satu cara untuk beribadah kepada Allah SWT, sehingga kita harus memperhatikan dan mengamati secara rinci sistem tabungan yang kita gunakan. Sistem bunga yang diterapkan bank konvensional merupakan sesuatu yang tidak pasti karena menyerupai riba dan larangan riba muncul secara eksplisit dalam Al Quran yang merupakan sumber mutlak bagi seluruh umat Islam. Riba bukan merupakan bentuk transaksi yang adil. Ini merupakan pelanggaran hukum, menyebabkan kerugian finansial, menciptakan kesenjangan sosial dan keragaman antara yang mampu dan tidak mampu karena keuntungan selalu mengalir kepada orang kaya. Oleh karena itu, tabungan haji di bank konvensional sedang diperdebatkan saat ini karena Islam melarang penerapan sistem bunga yang menyerupai riba.
            Bank adalah lembaga keuangan yang memiliki prinsip bisnis dalam distribusi uang dan tanggung jawab dalam peredaran uang, sedangkan bank konvensional adalah bank yang memiliki kewajiban yang sama secara konvensional. Sebuah bank bertindak sebagai perantara antara pelanggan dengan modal surplus untuk orang-orang dengan  modal defisit. Ia mengumpulkan dana yang akan dibagikan kepada masyarakat umum yang membutuhkan dana tersebut. Pada dasarnya, bank yang memiliki posisi yang signifikan dan peranannya terhadap negara-negara yang berusaha untuk meningkatkan ekonomi mereka, khususnya dalam hubungan dengan kontak ekonomi negara lain. Prinsip konvensional yang diterapkan bank konvensional mengandung dua metode, yaitu: pertama adalah mendefinisikan bunga sebagai harga, baik untuk produk-produk seperti tabungan, deposito, dan produk pinjaman (kredit) yang diberikan dengan tingkat bunga tertentu. Kedua adalah menerapkan sistem biaya disebut fee based dengan menggunakan biaya untuk penggunaan layanan dari bank lain. Dalam bank konvensional pentingnya pemegang saham adalah untuk mengoptimalkan perbedaan suku bunga antara suku bunga deposito dan pinjaman, pemberi pinjaman sisi lain mengharapkan bunga tabungan tinggi, sedangkan debitur mengharapkan suku bunga rendah. Sehingga bank konvensional adalah perantara antara pihak-pihak tersebut. Adapun bank adalah sebuah institusi, memiliki manajemen yang sistematis yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan seperti halnya sistem bunga yang ditentukan pada waktu kontrak dan menguntungkan bagi bank. Persentase didasarkan pada jumlah uang atau modal yang dipinjamkan. Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda ketika kondisi ekonomi yang baik. Karena sistem bunga, maka bank konvensional sedang diperdebatkan saat ini.
         

Jumat, 26 April 2013

Berbenah diri Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Umat



(Oleh: Zulhazzi Siregar, Staf Divisi Kajian IESC FE UII)

            Berbenah diri merupakan suatu hal yang baik dilakukan dalam Islam. Dalam artian yaitu hijrah dari hal yang buruk kepada hal yang baik, dari yang baik menuju hal yang lebih baik lagi. Sedangkan kemandirian merupakan kaidah penting dalam ekonomi islam. Artinya umat islam itu harus memiliki berbagai pengalaman, potensi/ qualitas serta sarana yang memungkinkannya mampu untuk beroperasi sendiri dan tanpa membutuhkan tenaga orang non islam guna untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan baik itu berbentuk material maupun non material.

            Sebagai ummat islam tidak hanya dituntut untuk paham tentang bidang agama islam saja, tapi dibidang lainnya sangatlah dibutuhkan, tekhnologi, ilmu alam, politik, ekonomi dan ekonomi islam dan lain sebagainya. Tentu tujuan dari semua harapan ini adalah untuk menjadikan ummat islam  mandiri secara finansial tanpa harus bergantung terhadap ummat lainnya.

Sabtu, 20 April 2013

Introduction to Islamic Accounting (kajian IESC sabtu, 13 april 2013)



Oleh : Yunice karina Tumewang (PSDI IESC FE UII)


Sore ini, sabtu 13 april 2013 kembali IESC (islamic Economics Study Club) FE UII mengadakan kajian, masih ditempat yang sama,  ruang  pojok bawah, lantai satu gedung paling utara kampus FE UII atau p1/1 kalau membaca tulisan diatas pintunya, iya diruang ber ac inilah kajian sabtu ini berlangsung.
Seperti sabtu-sabtu sebelumnya aku datang dengan semangat untuk mendapatkan ilmu baru dari pemateri yang datang, apa lagi kali ini temannya islamic accounting, sangat sesuai dengan jurusanku akutansi.