Selasa, 28 Januari 2014

Wanita, Penentu Peradaban


Jika ingin menghancurkan suatu kelompok ataupun organisasi, ada tiga hal yang perlu dilakukan. pertama adalah putus generasinya, kemudian perbodoh kadernya, dan yang terakhir adalah perburuk citranya. Dari ketiga hal tersebut dapat diambil satu inti masalah yaitu SDM.
 namun yang paling besar efeknya adalah memutus generasi kelompok tersebut. Mengapa demikian? Karena ketika generasi tersebut putus, tidak ada lagi yang meneruskan untuk mencapai visi, kalau sudah seperti ini, kehancuran organisasi hanyalah tinggal menunggu waktu.
Generasi atau cikal bakal penerus suatu bangsa atau umat, tidak akan lepas kaitannya dengan seorang wanita. Maka tak salah kalau ada yang bilang Wanita merupakan penentu peradaban. Seorang Ulama Mesir: Muhammad Quthb, pernah menyampaikan dalam pidatonya berpuluh-puluh tahun silam bahwa “seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya.” Wanita atau ibu tidak hanya menjadi pihak yang dekat dengan emosional seorang anak, tetapi juga memiliki pengaruh yang besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.
Ketika suatu hari ada seorang anak yang menghadapi masalah akhlak ataupun moral, anak tersebut dapat melalui masalah tersebut jika dalam hidupnya pernah mendapatkan pengasuhan dari ibu yang sholehah. dengan Pendidikan islam yang terkelola dengan baik akan membuat sang anak lekas bangkit dari masalahnya karena mengingat nasihat-nasihat rabbani yang pernah terekam dihatinya.
Sebaliknya, ketika seorang ibu memiliki akhlak yang “rusak” sejak awal, maka ia hanya  akan melahirkan generasi yang memiliki akhlak yang “rusak” pula. Sifat alami anak yang banyak meniru perilaku ibu, akan memberikan peluang untuk terjadinya transfering sifat alami ibu kepada anaknya.
Oleh karena itu, kerusakan akhlak generasi pembaharu bangsa: anak, sangat tergantung dengan akhlak ibunya, dan didikan yang ia lakukan, serta dukungan yang dilakukan oleh suaminya.
Jika seorang ibu yang sholehah mampu mengasuh 5 anak muslim dikeluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid, kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Roslullah, “Siapakah manusia di bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik?”. Rosulullah menjawab, “ibumu”. “Setelah itu siapa lagi ya Rosul?”. Sekali lagi Rosul menjawab, “ibumu”. Kemudian sahabat bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Lagi-lagi Rosul menjawab “ibumu, baru ayahmu”. (Shahih, Imam Bukhari). 
Jadilah ibu yang terbaik, dengan melahirkan generasi yang berakhlakul karimah. Semangat ibuku sayang
 

di sudut ruang istirahatku, 27 Desember 2013
15.22 WIB

Oleh: Rizqi Wardani (anggota IESC) 
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar