Jumat, 09 November 2012

Sedikit Tentang Ekonomi Islam



A.    Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir masyarakat dunia diguncang dengan bermacam krisis ekonomi, mulai dari krisis yang mengguncang asia tenggara pada tahun 1997-1998, hingga krisis di Amerika dan merambat masuk keEropa pada tahun 2000-an. Beragam cara dilakukan untuk memulihkan negara-negara yang sedang mengalami krisis untuk bangkit namun alih-alih untuk bangkit malah utang mereka semakin menumpuk, sehingga timbullah beragam pernyataan penyebab timbulnya krisis, pendapat yang sering dilontarkan adalah kesalahan dari sistem ekonomi yang mereka anut, yang tidak memebawa kepada kesejahteraan masyarakat.
Maka sangat perlu untuk para pelaku ekonomi untuk mencoba berfikir ulang apakah sistem ekonomi yang mereka anut masih layak untuk dipertahankan? Setelah melihat kasus-kasus diatas maka sangat bodoh kalau para pelaku masih menganggap sistem ekonomi yang mereka dianut sekarang masih layak dipertahankan. Melihat itu semua diperlukan sebuah sistem ekonomi baru yang bisa mejawab dan menjadi solusi atas sistem-sitem ekonomi sebelumnya.
B.     Ekonomi Sebagai Bagian Integral Dari Agama Islam
Ekonomi islam dibangun atas dasar agama islam, karenanya ia merupakan bagian yang terpisahkan dari agama islam, sebagai bagian dari ajaran islam, ekonomi islam akan mengikuti agama Islam dalam berbagai aspeknya. Islam adalah sistem kehidupan (way of life), dimana Islam telah menyediakan berbagai perangkat aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi. Beberapa aturan ini bersifat pasti dan berlaku permanen, sementara beberapa yang bersifat kontekstual sesuai dengan situasi kondisi. Penggunaan agama sebagai dasar sebagai dasar ilmu pengetahuan telah menimbulkan diskusi panjang di kalangan ilmuwan, meskipun sejarah telah membuktikan bahwa hal ini adalah keniscyaan. (Tim penulis P3EI,2008)
Islam memandang aktivitas ekonomi secara positif. Semakin banyak manusia terlibat dalam aktivitas ekonomi maka semakin baik, sepanjang tujuan dari prosesnya sesuai dengan ajaran islam. Ketakwaan kepada tuhan tidak menurunkan produktivitas dalm bidang ekonomi. Sebaliknya justu membawa sesorang untuk lebih produktif. (Tim penulis P3EI,2008) kekayaan dapat meningkatkan seseorang kepada tuhan selama diperoleh dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Islam.
C.    Pengertian dan Ruang lingkup Ekonomi Islam
Sejak abad ke-8 telah muncul pemikiran-pemikiran ekonomi secara islam parsial, misalnya peran negara dalam ekonomi, kaidah berdagang, mekanismen pasar dan lain-lain, tetapi pemikiran secara komprehensif  terhadap sistem ekonomi islam sesungguhya baru muncul pertengahan abad ke-20 dan semakin sejak dua dasawarsa terakhir.
Banyak akhli ekonomi Muslim yang mecoba mendefenisikan ekonomi islam, setiap orang mempunyai defenisi masing-masing, tetapi pada dasarnya mengandung makna yang sama. Pada intinya ekonomi islam adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang islami (Tim penulis P3EI, 2008). Yang dimaksud dengan cara –cara yang islami disini adalah cara-cara yang sesuai dengan sumber ajaran islam, yaitu yang bersumber dari Al-quran dan Sunnah nabi. Dengan pengertian ini maka istilah ini yang sering digunakan dalam ekonomi Islam.
Dari bebearpa Definisi yang sering diutarakan oleh para ahli ekonomi islam dapat kita simpulkan bahwa ekonomi islam bukan hanya merupakan praktik kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh individu dan komunitas  yang ada, namun juga perwujudan prilaku ekonomi yang didasarkan pada ajaran islam. Ia mencakup cara memandang permasalahan ekonomi, menganalisis, dan mengajukan alternatif solusi solusi atas berbagai permasalahan ekonomi. Ekonomi islam adalah konsekuensi logis dari implementasi ajaran islam secara kaffah dalam aspek ekonomi.
Beberapa ekonom menegaskan bahwa ruang lingkup dari ekonomi islam adalah masyarakat muslim atau negara muslim itu sendiri. Artinya is mempelajari prilaku ekonomi dari masyarakat atau negara muslim di mana nilai-nilai ajaran islam dapat diterapkan.  Namun ada juga pendapat lain yang tidak memberikan pembatasan seperti ini, melainkan lebih kepada penekanan terhadap persfektif islam tentang permaalahan ekonomi pada umunya. Dengan kata lain, titik tekan ekonomi islam adalah pada bagaimana ekonomi islam memberikan pandangan dan solusi atas berbagai permasalahan ekonomi yang dihadapi umat manusia secara umum.   
D.    Ekonomi Islam Untuk Kesejahteraan Umat
Nilai-nilai yang berada atau yang menjiwai ekonomi islam sangat relevan dengan kondisi segala zaman, sangat mungkin menjadi alternati solusi ketika kita mengetahu bahwa sistem ekonomi yang kita anut sekarang sangat jauh dari kesejahteraan masyarakat, jangankan kesejahteraan masyarakat, negara berkembang pun berusaha untuk mengurangi subsidi untuk masyarakatnya hanya untuk membayar utang negara.
Dalam ekonomi islam, masalah ekonomi hanyalah merupakan satu bagian dari aspek kehidupan yang diharapkan akan membawa manusia kepada tujuan hidupnya. Oleh karena ada tiga pokok yang diperlukan untuk memenuhi bagaimana mencapai tujuan hidup. (Tim penulis P3EI, 2008)
1.      Falah Sebagai Tujuan hidup
Falah berasal dari bahasa arab dari kata kerja aflaha-yuflihu yang berarti kesuksesan, kemuliaan atau kemenangan. Dalam pengertian literal, falah adalah kemuliaan dan kemenangan, yaitu kemuliaa dan kemenangan dalam hidup. Falah juga sering dimaknai keberuntungan jangka panjang , dunia dan akhirat, sehingga tidak hanya memandang aspek material namun justru lebih ditekankan pada aspek spritual. Dalam konteks dunia, falah merupakan konsep yang multi dimensi. Ia memiliki implikasi pada aspek prilaku individual/mikro maupun prilaku kolektif/makro.
2.      Maslahah Sebagai Tujuan Antara untuk Mencapai Falah
Falah, kehidupan yang mulia dan sejahtera di dunia dan akhirat, dapat terwujud apabila terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia secara seimbang. Tercukupinya kebutuhan kebutuhan masyarakat akan memberikan dampak yang disebut dengan maslahah. Maslahah adalah segala bentuk keadaan, baik material maupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai mahluk yang paling mulia.
Menurut as-Shatibi, maslaha dasar bagi kehidupan manusia terdiri dari lima hal, yaitu agama (dien), jiwa (nafs), intelektual (‘aql), keluarga dan keturunan (nash), dan material (wealth). Kelima hal tersebut merupakan kebutuhab dasar manusia, yaitu kebutuhan yang mutlak dipenuhi agar manusia dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Jika salah satu dari kebutuhan di atas tidak terpenuhi atau terpenuhi dengan tidak seimbang niscaya kebahagiaan hidup juga tida tercapai dengan sempurna.
3.      Permasalahan dalam Mencapai Falah      
Dalam upaya mencapai falah manusia menghadapi banyak permasalahan, adanya berbagai keterbatasan, kekurangan dan kelemahan yang ada pada manusia serta kemungkinan adanya interdepensi berbagai aspek kehidupan seringkali menjadi permasalahan besar dalam upaya mewujudkan falah. Permasalahan lain adalah kurangnnya sumber daya yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan atau keinginan manusia dalam rangka mencapai falah. Kekurangan sumber daya inilah yang sering disebut oleh ekonomi pada umumnya dengan istilah ‘kelangkaan’.
Kelangkaan relatif terjadi disebabkan oleh tiga hal pokok.
a.       Ketidak merataan distribusi sumber daya
b.      Keterbatasan manusia
c.       Konflik antar tujuan hidup

Simpulan
            Nilai-nilai atau ajaran yang terkandung dalam ilmu ekonomi islam sangat memihak pada kesejahteraan masyarakat, bila dilihat dari tujuan hidupnya, bagaimana islam mengatur produksi, distribusi, konsumsi.
Islam juga mempunyai zakat, infaq dan shadaqah, tidak hanya sebagai ritual ibadah tapi juga untuk pemerataan kepada seluruh masyarakat. Orang-orang kaya mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan hartanya dan diberikan kepada golongan-golongan yang berhak menerimannya.
           


 
           

Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar